?

Log in

Paradigma wacana


Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus. Secara terbatas, istilah ini merujuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana merujuk kepada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri-ciri bahasa dalam tindakan.

Sebagaimana telah disebut, analisis wacana tidak hanya memfokus dalam kajian bahasa, tetapi juga dalam berbagai lapangan kajian lain. Dalam linguistik, analisis wacana merujuk pada kajian terhadap  bahasa dalam ayat yang memusatkan perhatian pada aras lebih tinggi dari hubungan ketata-bahasaan (grammatical). Dalam sosiologi, analisis wacana merujuk pada kajian hubungan konteks sosial dengan pemakaian bahasa. Kalau dalam psikologi sosial, analisis wacana merujuk pada kajian terhadap struktur dan bentuk percakapan atau wawancara.  Manakala dalam ilmu politik, analisis wacana merujuk pada kajian terhadap praktik pemakaian bahasa dan jaringannya dengan kekuasaan. Tampak jelas, dalam lapangan kajian apa pun, istilah analisis wacana muncul dalam setiap disiplin ilmu.

Tiga Paradigma

Analisis wacana juga  berdasarkan paradigma kajian (paradigm of inquiry) yang mendasarinya. Secara umum ada tiga paradigma kajian yang berkembang dan saling bersaing dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Masing-masing adalah analisis wacana positivisme (positivist discourse analysis), analisis wacana interpretivisme (interpretivist discourse analysis), dan analisis wacana kritisisme (critical discourse analysis).

Bersandar pada paradigma positivisme, bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Terkait dengan analisis wacana, para peneliti bahasa tidak perlu mengetahui makna-makna atau nilai subjektif yang mendasari suatu pernyataan. Analisis wacana positivistik memperhatikan dan mengutamakan pemenuhan seperangkat kaidah sintaksis dan semantik. Kebenaran semantik dan ketepatan sintaksis menjadi takaran utama dalam aliran ini. Karena itu, analisis wacana positivistik diarahkan pada penggambaran tata-aturan kalimat dan paragraf beserta kepaduan makna yang diasumsikan berlaku umum. Bagaimana kalimat yang baik harus disusun? Bagaimana paragraf yang baik harus ditulis? Bagaimana pula wacana yang baik harus dikembangkan? Bertolak dari masalah-masalah ini, kohesi dan koherensi menjadi tolok-ukur utama dalam setiap analisis wacana positivistik.[9]

Penganjur paradigma interpretivisme menolak pemisahan manusia sebagai subjek dengan objek. Bahasa tidak dapat dipahami terkecuali dengan memperhatikan subjek pelakunya. Subjek manusia diyakini mampu mengendalikan maksud-maksud tertentu dalam tindak berwacana.Oleh sebab itulah, setiap pernyataan pada hakikatnya adalah proses penciptaan makna. Dalam perspektif ini pula berkembang teori tindak-tutur, serta keberlakuan kaedah-kaedah kejasama dalam percakapan. Analisis wacana dimaksudkan untuk mengungkap maksud-maksud dan makna-makna tertentu dari subjek. Dalam perspektif ini, apabila berkehendak memahami sesuatu wacana, maka penganalisis mampu mengembangkan empati terhadap subjek pelaku wacana.

Penganjur paradigma kritisisme menilai bahwa baik paradigma positivisme maupun paradigma interpretivisme tidak peka terhadap proses memberi makna. Kedua paradigma tersebut mengabaikan kehadiran unsur kekuasaan dan kepentingan dalam setiap praktik berwacana. Oleh sebab itu,  mengkaji ketepatan tata-bahasa menurut tradisi positivisme atau proses penafsiran sebagaimana tradisi interpretivisme, paradigma kritisisme justru memberi makna lebih besar terhadap pengaruh kehadiran kepentingan dan jejaring kekuasaan dalam proses penghasilan makna suatu wacana. Baik sebagai subjek maupun objek praktik wacana, individu tidak bebas dari kepentingan ideologik dan jejaring kekuasaan.

Kesimpulannya, meskipun ada banyak ranting aliran (variance) dalam paradigma ini, semuanya memandang bahwa bahasa bukan merupakan medium yang netral dari ideologi, kepentingan dan jejaring kekuasaan. Oleh sebab itu, analisis wacana kritis dikembangkan dan digunakan sebagai piranti untuk membongkar kepentingan, ideologi, dan praktik kuasa dalam kegiatan berbahasa dan berwacana.

 


Sudah jatuh cinta


Analisis wacana kritis memang pada saya sesuatu yang baru.  Walaupun sebelum ini kita sudah pun melalui alam analisis wacana ini tetapi ia dipelajari secara tidak langsung, yang kadang kala saya pun tidak menyedari saya sedang membuat analisis wacana.  Memang ia sangat kabur sehingga ketika di dalam kelas pun sewaktu kuliah, saya masih termangu-mangu dan tergaru-garu kepala yang tidak gatal ini.  Mungkin orang lain akan mengatakan “bodohnya budak ini”!  tetapi tidak mengapa, saya terima.  Hanya dua hari sebelum peperiksaan baharu saya mengetahui betapa bidang ini luas dan ada kesannya jika saya mempelajarinya secara besungguh-sungguh.  Memang pun AWK ini ternyata member impak jelas kepada saya.  Ada keseronokan untuk memahaminya dan mempelajarinya.  Kemungkinan sebab-sebab itulah AWK sudah ramai pengikutnya dan saya yang baru bertatih ini juga sudah mula jatuh cinta.  Mawar merah untuk analisis wacana dan pencintanya.


Slanga sebagai identiti kumpulan


Esei pertama saya lebih berkisar kepada slanga sebagai pemebentuk identiti kumpulan.  Di sini saya lebih merujuk kepada remaja khasnya yang masih bersekolah dan belajar di peringkat universiti.  Remaja adalah transisi antara zaman kanak-kanak ke alam dewasa.  Justeru, pelbagai kecelaruan  berlaku dalam kalangan remaja untuk membentuk identiti  mereka.  Demikian halnya, bahasa slanga sebagai pembentuk identiti remaja.     Ia sebenarnya berupaya memperkenalkan remaja sebagai satu kumpulan atau kelompok.  Dalam satu kelompok besar remaja diperkenalkan dengan bahasa sebagai pengenalan kumpulan mereka.  Remaja mempunayi ego yang sangat besar dan kuat, dan dalam hal inilah mereka cuba memperlihatkan suatu identiti yang berbeza agar mereka mudah dikenali dan sebagai penegalan kepada kumpulan mereka.  Apabila mereka membuka mulut dan berbicara maka merekadapat membina identiti dengan menggunakan perkataan-perkataan yang hanya difahami oleh kumpulan mereka sahaja.  Masyarakat di luar akan hanya mengetahu bahasa itu apabila dinanlisis dan dicerakinkan.  Dengan ini sahaja kumpulan remaja ini tetap berdiri dengan bahasa mereka yang tersendiri.

Sungguhpun slanga adalah bahasa basahan namun tempiasnya dalam kalangan remaja lain yang bukan kelompok itu amat ketara dan menular sekali.  Apabila kita melihat bahasa sms itu sahaja, nyata benar ia adalah manifestasi slanga itu tadi.  Salanga itu diwujudkan dalam sms dan digunakan dengan sewenang-wenang tanpa bangkangan sesiapa.  Justeru, slanga adalah bahasa kumpulan dan jika tidak diperhati dan ditegur penggunaannya maka tak lama lagi ia akan mewarnai bahasa Malaysia itu sendiri.  Kita harus takut dengan keajaipan bahasa ini dan perlu disekat agar ia tidak terus menerus menular dalam kalangan pengguna bahasa yang indah ini.  Asalnya hanya menggambar identiti kumpulan, takut-takut nanti ia menjadi identity bahasa Malaysia itu sendiri.   


Teori Feminisme

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan lelaki.

Perkembangan di Amerika Syarikat

Gelombang feminisme di Amerika Syarikat bermula selepas terbitnya buku The Feminine Mystique yang ditulis oleh Betty Friedan di tahun 1963. Buku ini ternyata memberi impak luas, lebih-lebih setelah Betty Friedan membentuk organisasi wanita bernama National Organization for Woman (NOW) pada tahun 1966. Dalam bidang perundangan, tulisan Betty Fredman berhasil mendorong  Equal Pay Right (1963) sehingga kaum perempuan boleh menikmati suasana kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan Equal Right Act (1964) yang mana kaum perempuan mempunyai hak memilih secara penuh dalam segala bidang

Pada tahun 1967 terbentuklah Student for a Democratic Society (SDS) yang mengadakan konvensyen nasional di Ann Arbor kemudian dilanjutkan di Chicago pada tahun yang sama. Dari sinilah  muncul kelompok "feminisme radikal" dengan membentuk Women´s Liberation Workshop yang lebih dikenal dengan singkatan "Women´s Lib". Women´s Lib memperjelas bahawa peranan kaum wanita dalam hubungannya dengan kaum laki-laki dalam masyarakat kapitalis terutama Amerika Syarikat tidak lebih seperti hubungan yang dijajah dan penjajah. Pada tahun 1968 kelompok ini secara terbuka memprotes diadakannya "Miss America Pegeant" di Atlantic City yang mereka anggap sebagai "pelecehan terhadap kaum wanita dan komersialisasi tubuh perempuan". Gema ´pembebasan kaum wanita´ ini kemudian mendapat sambutan di mana-mana di seluruh dunia..

Pada 1975, "Gender, development, dan equality" sudah dicanangkan sejak Konferensi Perempuan Sedunia Pertama di Mexico City tahun 1975. Hasil penelitian kaum feminis sosialis telah membuka wawasan gender untuk dipertimbangkan dalam pembangunan bangsa. Sejak itu, arus pengutamaan gender atau gender mainstreaming melanda dunia.

Memasuki era 1990-an, kritik feminisme memasuki dalam institusi sains yang merupakan salah satu struktur penting dalam masyarakat moden. Termarginalisasinya peranan wanita dalam institusi sains dianggap sebagai impak dari karakteristik patriarkal yang menempel erat dalam institusi sains. Tetapi, kritik kaum feminis terhadap institusi sains tidak berhenti pada masalah termarginalisasi peranan perempuan. Kaum feminis telah berani masuk dalam wilayah epistemologi sains untuk membongkar ideologi sains yang sangat patriarkal. Dalam kacamata eko-feminisme, sains moden merupakan representasi kaum laki-laki yang dipenuhi nafsu eksploitasi terhadap alam. Alam merupakan representasi dari kaum perempuan yang lemah, pasif, dan tak berdaya. Dengan relasi patriarkal demikian, sains modern merupakan refleksi dari sifat maskulinitas dalam memproduksi pengetahuan yang cenderung eksploitatif dan destruktif.

Berangkat dari kritik tersebut, tokoh feminis seperti Hilary Rose, Evelyn Fox Keller, Sandra Harding, dan Donna Haraway menawarkan suatu kemungkinan terbentuknya genre sains yang berlandas pada nilai-nilai perempuan yang antieksploitasi dan bersifat egaliter. Gagasan itu mereka sebut sebagai sains feminis (feminist science).

Lega tetapi masih gelisah!

Hari ini aku mula menghantar tugasan ulasan karya secara kritis.  Lega sedikit, tetapi masih gelisah kerana ada lagi tugasan yang mesti dibereskan.  Bermingu-minggu rasanya aku menaakul apa yang perlu dilakukan.  Pening juga maklumlah nak mengkritik karangan orang tambah-tambah dalam jurnal berwasit ini.  Terketar-ketar juga adakah penulisan saya berada di atas landasan?  Mula-mula mencari bahan yang bersesuaian.  Alhamdulillah akhirnya terjumpa juga bahan tentang peribahasa ini.   Selepas itu mencari pula bahan untuk dijadikan bahan sokongan untuk ulasan ini.  Bermalam-malam juga lah mencari di internet.  Kadang kala ada halaman yang tidak boleh dibuka sedangkan tajuknya bersesuaian.  terasa marah juga.  Nekad dalam minggu ini aku mula mnulis secara perlahan-lahan tetapi berterusan.  Alhamdulillah inilah hasilnya.

tulisan jawi: mampukah bertahan?

         Saya tertarik dengan pemerhatian dan teguran Dr. tentang tulisan jawi di Bandaraya Alor Star.   Saya juga terperasan hanya belakangan  ini sahaja jelas penampilan tulisan jawi nampak  ketara.  Read more...Collapse )
            Menurut Perlembagaan Persekutuan Tanah Melayu menyatakan dalam Perkara 152 bahawa bahasa melayu ialah bahasa kebangsaan, juga bahasa rasmi negara, sementara bahasa Inggeris diberikan taraf bahasa rasmi untuk 10 tahun selepas 1957 dengan kedudukannya akan dikaji semula oleh Parlimen.  Konklusinya, apa yang dapat diperhatikan ialah semakin terhakisnyapenggunaan bahasa Melayu dalam pelbagai urusan walaupun sudah termaktub dalam perlembagaan.  Dalam soal kelayakan untuk bekerja dalam sektor swasta, belajar dalam institusi pengajian swasta dan lain-lain bidang dalam sektor swasta menghendaki kemahiran berbahasa Inggeris selain bahasa Melayu.  Alangkah berharganya kalau tahu berbahasa Mandarin.  Nampak di sini  betapa malangnya bahasa Melayu di bumi Melayu. 
           Read more...Collapse )
HARI INI

kasihan si pemalas
didikan guru diabaikan
nasihat guru dia tidak peka
teguran guru racun berbisa
ponteng sekolah hobi baginya
soal meniru dia gurunya
ajak mentelaah no time
ajak berpeleseran anytime
ajak merempit off course
kerja part time di luar no problem
belajar extra time di sekolah I got problem

Read more...Collapse )

PUDARKAH SUDAH JATI DIRI PELAJAR?

           Jati diri bermaksud keperibadian atau perwatakan seseorang yang dapat menunjukkan identiti keseluruhannya.  Jati diri dalam Islam merupakan kekuatan dalaman seseorang individu itu.  Ia merupakan kekuatan rohani,  sahsiah, hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan manusia lain.  Sesungguhnya ia merupakan suatu kesempurnaan dalaman dan luaran seseorang itu.
          Jati diri merupakan suatu ciri yang penting bagi rakyat sesuatu negara.  Dengan adanya jati diri yang tertentu maka sesuatu bangsa itu akan terkenal identitinya pada pandangan dunia luar.  Jati diri rakyat di negara kita, memang terkenal dengan insan yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia, bersopan santun mematuhi ajaran agama, dan saling menghormati antara satu sama lain.  Jati diri inilah yang ingin kita bina bagi rakyat Malaysia yang ingin akan kedamaian dan keamanan.  Jati diri yang kuat akan menjamin kemakmuran dan masa depan negara.  
          Sebagai pelajar, sifat terpuji penting untuk melahirkan kecemerlangan.  Untuk menjadi pelajar yang cemerlang, setiap pelajar perlu ada pendidikan.  Kecemerlangan pendidikan perlu dimantapkan dengan perwatakan terpuji.  Antara ciri perwatakan terpuji alah rajin, tekun, bertanggungjawab, jujur, berdaya saing,mempengaruhi orang lain dengan perkara-perkara positif dan lain-lain lagi.  Pelajar yang berjaya pula ialah pelajar yang berkemampuan untuk membuka fikiran dan cara berfikir. Hal ini ditegaskan oleh John C Maxwell,"Jika anda tidaga k berubah, anggota lain dalam kumpulan akan mengubah anda." 
       Read more...Collapse )